[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

[INDEX] Daftar Tugas Mata Kuliah Filsafat Pendidikan

Mencerdaskan Hati Nurani

Mencerdaskan Hati Nurani
Hati sanubari disebut juga lahmun sanubari. Letaknya dua jari dibawah payudara kiri, menempel pada rusuk terakhir. Merupakan markasnya nafsu amarah dan nafsu lawwamah. Nafsu amarah dengan bala tentara : senang berlebihan, royal, angah-angah, hura-hura, jor-joran (lomba kekayaan), serakah, iri, dengki, dendam, membenci, bodoh, tidak tahu kewajiban, sombong, tinggi hati, senang menuruti syahwat dan suka marah-marah. Sedang nafsu lawwamah tentaranya : serakah, enggan, acuh, senang memuji diri, pamer, senang mencari aibnya orang lain, senang menganiaya, dusta, tidak peduli dengan kebenaran mutlak-Nya, pura-pura tidak tahu kewajiban, arogan, memandang diri lebih dari lainnya, suka mencari kesalahan orang lain, berlebihan dan bersenang-senang, dan mengumbar hawa nafsu.

Sedangkan hati nurani, nama lengkapnya qalbun nuraniyun latifun Rabbaniyun. Hati tempat mengalirnya nur Cahaya Tuhan. Adalah hati yang dibuat Tuhan dari cahaya “Nur Muhammad” (Cahaya Terpuji-Nya Dzat Yang Mutlak Wujud-Nya). Letaknya ditengah-tengah dada. Tandanya detak jantung. Disebut juga dengan hati jantung.
Hati ini adalah wujud lembut yang dibangsakan gaib dan tidak bisa dilihat mata kepala. Cita-cita dan tujuannya hanyalah untuk seyakinnya mengenali dan mengetahui Diri Ilahi. Yang selanjutnya diingat-ingat dan dihayati dimana saja kapan saja dan sedang apa saja.
Merupakan markasnya nafsu radhiyah, nafsu mardhiyah dan nafsu kamilah. Nafsu radhiyah dengan tentara : pribadi yang mulia, zuhud, ikhlas, wira’i, riyadhah dan menepati janji. Nafsu mardhiyah dengan tentara : bagusnya budi pekerti, bersih dari segala dosa makhluk, rela menghilangkan kegelapannya makhluk, senang mengajak dan memberi pepadang kepada ruhnya makhluk. Dan nafsu kamilah yang tentaranya : ilmu yakin, ‘ainul yakin dan hakkul yakin.
Kedua hati tersebut “tidak mungkin” berfungsi secara bersama. Sebagaimana ketentuan-Nya, “Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya” (Q.S. 33:4). Jelasnya, kalau hati sanubari yang berfungsi, maka hati nurani akan tenggelam. Sebaliknya, bila hati nurani yang berfungsi, maka hati sanubarinya yang akan tenggelam.
Sedang kenyataannya, mayoritas manusia dikuasai oleh hati sanubarinya (dijajah hawa nafsunya). Oleh karenanya, Nabi Saw bersabda bahwa perang melawan hawa nafsu merupakan perang yang terbesar. Melebihi besarnya perang-perang di dunia yang selama ini pernah ada, sekalipun perang antar planet/galaksi (apalagi perang nuklir) yang bisa menghancurkan bumi ini. Sebab, perang melawan nafsu, urusannya berlanjut sampai di akherat dengan resiko–yang baik maupun yang buruk–bisa berlipat berjuta-juta. Sedang perang dunia, selesai tiada perkara.
Untuk memfungsikan hati nurani–berikut pencerdasannya, langkah pertamanya adalah diberi ilmu dzikir. Caranya dengan “digurukan” kepada ahlinya, yaitu ahli dzikir. Memenuhi perintah-Nya “…fas-alu ahladzdzikkri inkuntum laa ta’lamuuna“ (Q.S. 21:7), tanyakanlah kepada ahli dzikir bila kamu tidak mengetahui bagaimana caranya berdzikir. Sebab, tanpa kesediaan bertanya kepada yang diahlikan oleh Tuhan, maka upaya pencerdasan tersebut “mustahil” dapat tercapai. Relevan dengan sabda Nabi SAW  “bila suatu perkara tidak ditanyakan kepada ahlinya, tunggulah kehancurannya”.
Kedua, mengabadikan ilmu dzikirnya dalam dada bersamaan dengan keluar masuk nafas. Memenuhi dan menjalankan segala petunjuk, perintah maupun teladan sang pemberi ilmunya. Sebab tidak mungkin hati nurani menjadi cerdas (dalam mendzikiri Diri Ilahi, dan menafikan wujud selain Wujud-Nya) bila tidak berusaha sekeras-kerasnya melatih dan menjalankan berbagai latihan yang telah ditentukan. (Sebagaimana pula otak yang tidak mungkin menjadi pandai bila tidak sungguh-sungguh dalam melatihnya dengan latihan yang keras).
Sebab, godaan yang datang dari dalam–hati sanubari dan segenap bala tentaranya–tidak akan pernah berhenti. Didukung godaan dari luar berupa setan dan iblis yang telah bersumpah akan menyeret semua manusia menjadi balanya di neraka.
Ketiga, selalu bersandar (bertawakkal) pada Dzat Yang Mahakuasa. Sebab, bagaimanapun kerasnya usaha hamba, ujung-ujungnya hanya pada kekuasaan-Nya. Manusia berusaha Tuhan yang menentukan segalanya. Sebab, “barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah, maka dialah orang yang mendapat hidayah; dan barang siapa yang disesatkan, maka kamu sama sekali tidak akan mendapatkan baginya Waliyyan Mursyida (seorang pemimpin yang dapat memberikan petunjuk hingga bertemu kepada-nya)” (Q.S.18:17).
Ketiga langkah tersebut, secara teoritis maupun praktis, merupakan cara “mencerdaskan hati nurani”. Namun, teori hanyalah sekedar teori bila tidak diikuti dengan langkah pasti. Sebagaimana yang telah penulis alami dan rasakan sendiri kebenarannya. Wallahu a’lam.



Sumber: kompasiana

Pertanyaan Filsafat

Pertanyaan Filsafat

Banyak hal yang dapat kita ketahui dengan belajar filsafat, tetapi ada hal yang tidak dapat diketahui, apa itu?

Jawab:
Filsafat merupakan perbincangan mencari hakikat sesuatu atau segala hal. manusia mempelajari filsafat karena salah satu ciri khas manusia adalah sifatnya yang selalu ingin tahu tentang sesuatu hal. Rasa ingin tahu ini tidak terbatas yang ada pada dirinya.  Manusia juga ingin tahu tentang lingkungan sekitar, bahkan ke arah dunia luar, 
Tahu adalah gambaran atau kesan yang timbul dalam diri kita tentang sesuatu yang kita amati. Sedangkan pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu itu adalah hasil dari kenal, sadar, dan mengerti. dan pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran.
Jadi, persoalan yang tidak dapat kita ketahui adalah segala sesuatu yang tidak kita kenal, mengerti, dan tidak dimiliki oleh pikiran manusia,

Nasehat Umar Bin Khattab Untuk Para Suami dan Calon Suami

Nasehat Umar Bin Khattab Untuk Para Suami dan Calon Suami

Ada seorang lelaki menghadap khalifah Umar bin Khatab. Dia ingin mengadukan dan meminta nasehat terkait tabiat istrinya yg buruk.
Sesampainya di depan rumah khalifah, dia tercekat. Melihat dan mendengar istri khalifah Umar ternyata tidak berbeda dengan istrinya. Marah-marah di depan khalifah, sedangkan beliau hanya diam tidak menjawab.
Lelaki tadi kemudian beranjak pergi sambil berkata,
"Amirul mukminin saja kondisinya sepertinya ini, bagaimana denganku?" 
Khalifah Umar keluar rumah. Melihat ada lelaki yg ingin menemuinya pulang lagi, beliau memanggilnya mendekat. Kemudian beliau bertanya,
"Apa keperluanmu?"
Dijawab,
"Wahai amirul mu'minin, saya menghadap ingin mengadukan perangai buruk istriku. Dia selalu memarahiku. Kemudian setelah aku mendengar ternyata istri anda juga memiliki perangai yg sama, akhirnya aku pulang saja" 
Khalifah Umar berkata,
"Aku bersabar dengan semua ini karena hak-hak istri yg seharusnya menjadi kewajibanku. Dia memasak makananku, membuatkan roti untukku, mencuci bajuku, dan menyusui anakku. Padahal semua itu bukan kewajibannya. Belum lagi, dengan keberadaan istriku di sampingku hatiku tenang tidak tergoda untuk melakukan hal haram (zina dll). Aku sabar karena semua ini".  
Lelaki tadi menimpali,
"Wahai amirul mu'minin, demikian juga istriku." 
Khalifah menasehatinya,
 "Bersabarlah wahai saudaraku. Semua ini hanya sebentar."

Subhanallah......

Mengembangkan Pola Pikir Filsafat

Mengembangkan Pola Pikir Filsafat

Cara mengembangkan pola piker dan filsafat kita adalah dengan cara memperhatikan hewan yang hidup, tumbuhan yang hidup serta memperhatikan kita bisa hidup. Baik secara makro maupun mikro. Tuhan mnciptakan bumi yang berputar pada porosnya serta mengelilingi matahari. Bumi yang berputar tersebut tidak akan pernah menempati tempat yang sama begitu pula dengan manusia yang tidak akan menempati tempat yang sama pada masa yang berlaku. Ciptaan Tuhan adalah untuk kemaslahatan manusia yang sebaiknya selalu kita jadikan contoh. Sebagai contoh adalah watak bumi yang berputar pada porosnya maka kita harus meniru watak itu yaitu berputar pada doa-doa dalam hati kita. pola pikir dan filsafat adalah ikhtiarmu. Ikhtiarmu adalah dalam pengalamnmu. Pengalamanmu adalah pikiranmu. Secara spitual sukses dunia akhirat adalah menggapai harmoni dalam segala macam aspeknya. Ada doa dan ikhtiar dalam hidupmu. Penyakit berfilsafat adalah dalam keadaan tidak seimbang dan melanggar norma. Misalnya saja kita dalam perkuliahan filsafat harus membaca elegi, ketika kita tidak membaca elegi dan membuat comment  maka kita terancam kematian kita dalam filsafat.

Bijaksana dengan Filsafat

Bijaksana dengan Filsafat

Apa sebenarnya konsekuensi yang harus dipenuhi oleh orang yang belajar filsafat atau filosof? Jawabnya adalah ia harus merendah di hadapan kebenaran: menerimanya, mencintainya dan menginternalisasikan kebenaran itu. Buah dari sikap seperti ini adalah sikap bijaksana dan tegas sekalipun harus menanggung resiko penentangan dan pengucilan dari orang-orang yang tidak mencintai kebenaran.
Pertama-tama untuk bijaksana, seseorang harus tahu kebenaran. Setelah tahu kebenaran, kau harus mencintai kebenaran itu. Tanda orang cinta adalah mau mengabdikan diri. Seorang filosof adalah seorang yang pandai dalam bercinta. Maka aspek-aspek kebijaksanaan itu adalah pengetahuan, kebenaran dan cinta. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang bersumber dari kebenaran dan tercerap secara baik di dalam jiwa. Kebenaran yang hakiki adalah kebenaran yang bersumber dari Tuhan dan terdokumentasikan dengan baik. Cinta yang sejati adalah yang timbul dari kedalaman hati dan berkonsekuensi rela untuk berkorban.
Untuk bijaksana, kau mesti berpengetahuan. Pengetahuan adalah apa saja yang tercerap secara baik dalam jiwa sehingga menjadi landasan dalam memandang dunia dan bersikap atau merespon dunia internal atau eksternal. Bagaimana agar kita berpengetahuan? Pertama adalah membaca dan kedua adalah mengalami. Membaca ada dua kategori, yaitu membaca hal yang tersurat dan membaca hal yang tersirat. Sebaik-baiknya yang tersurat adalah wahyu. Sedangka yang tersirat adalah hati dan alam semesta. Wahyu, hati dan alam semesta harus dibaca setiap hari dengan penuh penghayatan dan pencerapan.
Untuk berpengetahuan kita harus mengalami. Kata orang pengalaman adalah guru dan sekolah yang terbaik. Maka semakin banyak dan berkualitas pengalaman kita semakin bagus pengetahuan yang kita miliki. Pengalaman apa yang harus dijalani dan diprogramkan kita agar menjadi suatu pengetahuan? Pengalaman yang bersifat privat, sosial, spiritual, dan emosional. Nilai-nilai moral, agama, hukum dan adat manusia harus menjadi wahana pengalaman kita ketika kita mengamalkannya. Orang yang berpengetahuan pada dasarnya adalah orang yang selalu membangkitkan potensi berfikirnya lewat membaca dan potensi perbuatannya dengan cara mempraktekkan ilmu.
Untuk bijaksana kau juga harus benar. Bukan hanya berpengetahuan benar tapi juga harus bertindak, bersikap, bertekad dan berucap secara benar. Seseorang bisa saja berpengetahuan secara baik dan benar. Seseorang harus memiliki pengetahuan seluas-luasnya tentang kabaikan dan keburukan secara cermat dan akurat. Tetapi pengetahuan mana yang akan jadi landasan dalam memandang dunia dan bersikap atau merespon dunia internal atau eksternal yang ia pilih sangat menentukan apakah ia menjadi seorang yang benar atau salah. Seseorang yang memiliki pengetahuan tentang matrealisme adalah benar dalam pengetahuannya bila ia mencerap informasi dengan baik dan apik tentang matrealisme itu. Namun ia adalah seorang yang buruk dalam pandangan Allah, jika ia menjadi seorang penganut filsafat matrealisme. Seorang yang bijaksana dalam hal ini ialah orang yang memiliki pengetahuan tentang matrealisme dengan baik dan apik lalu ia membuangnya ke keranjang sampah kehidupannya. Karena jalan yang mesti di laluinya adalah jalan Tuhan yang lurus.
Untuk bijaksana kau harus pandai bermain cinta. Kau harus cinta pengetahuan dan cinta kebenaran. Serta mencintai cinta itu sendiri. Shabar adalah suatu konsep yang mengandung nilai-nilai di atas. Artinya orang yang shabar adalah orang yang cinta pengetahuan yang akurat, cinta akan kebenaran yang hakiki, dan mencintai rasa cinta sejati. Cinta akan rasa cinta itu artinya sifat kontinuitas di dalam mencintai. Hal itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang shabar. Kalau demikian orang shabar adalah orang yang bijaksana. Orang yang cerdas, benar dan penuh cinta.
Kunci bijkasana adalah Shabar.
Sekarang apa inti sari sabar itu sendiri? Inti sari shabar adalah: keyakinan bahwa apa yang ada pada diri kita akan binasa, sedangkan yang ada pada sisi Tuhan adalah abadi. Ia yakin bahwa dirinya akan berjumpa dengan Tuhannya. Maka sejatinya orang yang sabar adalah orang yang cerdas dan tidak cinta dunia. Orang yang cerdas adalah orang yang banyak mengingat mati dan mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kehidupan setelah mati. Untuk merealisasika nilai-nalai sabar itu, ia akan menjadi sosok pembelajar, aktivis dan sekaligus mau berkorban untuk apa saja asalkan benar. Ia yakin bahwa apa yang ada pada diri kita akan binasa, sedangkan yang ada pada sisi Tuhan adalah abadi. Maka ia memilih yang abadi daripada yang fana. Konon manusia mestinya lebih memilih kematian dari pada fitnah dunia, dan memilih sedikit harta daripada berat dihisab nanti.
Semoga engkau menjadi Filosof: seorang yang mencintai kebijaksanaan, seorang yang shabar, seorang yang banyak mengingat mati, seorang yang banyak berkorban di jalan Tuhannya. Nanti engkau akan menjadi seorang yang kaya raya. Karena Tuhan telah berjanji siapa yang berkorban di jalanNya, apa yang dikorbankannya itu menjadi bernilai tujuhratus kali lipat yang tersimpan di dalam hati dan untuk kehidupannya di akhrat kelak.

Teori-teori Kebenaran: Korespondensi, Koherensi, Pragmatik, Struktural Paradigmatik, dan Performatik

Teori-teori Kebenaran: Korespondensi, Koherensi, Pragmatik, Struktural Paradigmatik, dan Performatik
eori Korespondensi (The Correspondence Theory of Thruth) memandang bahwa kebenaran adalah kesesuaian antara pernya-taan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri. Contoh: “Ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta”. Teori Koherensi/Konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth) memandang bahwa kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Teori Pragmatis (The Pragmatic Theory of Truth) memandang bahwa “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”; dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”. Kata kunci teori ini adalah: kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequencies).
Kelima macam teori kebenaran yang akan dibahas berikut ini adalah berbagai cara manusia memperoleh kebenaran yang sifatnya relatif atau nisbi. Kebenaran absolut atau kebenaran mutlak berasal dari Tuhan yang disampaikan kepada manusia melalui wahyu. Alam dan kehidupan merupakan sumber kebenaran yang tersirat dari tuhan untuk dipelajari dan diobservasi guna kebaikan umat manusia.

Teori Korespondensi (Correspondence Theory of Truth)
Teori kebenaran korespondensi adalah teori yang berpandangan bahwa pernyataan-pernyataan adalah benar jika berkorespondensi terhadap fakta atau pernyataan yang ada di alam atau objek yang dituju pernyataan tersebut. Kebenaran atau suatu keadaan dikatakan benar jika ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan fakta. Suatu proposisi adalah benar apabila terdapat suatu fakta yang sesuai dan menyatakan apa adanya. Teori ini sering diasosiasikan dengan teori-teori empiris pengetahuan. Teori kebenaran korespondensi adalah teori kebenaran yang paling awal, sehingga dapat digolongkan ke dalam teori kebenaran tradisional karena Aristoteles sejak awal (sebelum abad Modern) mensyaratkan kebenaran pengetahuan harus sesuai dengan kenyataan yang diketahuinya.

Dua kesukaran utama yang didapatkan dari teori korespondensi adalah: Pertama, teori korespondensi memberikan gambaran yang menyesatkan dan yang terlalu sederhana mengenai bagaimana kita menentukan suatu kebenaran atau kekeliruan dari suatu pernyataan. Bahkan seseorang dapat menolak pernyataan sebagai sesuatu yang benar didasarkan dari suatu latar belakang kepercayaannya masing-masing. Kedua, teori korespondensi bekerja dengan idea, “bahwa dalam mengukur suatu kebenaran kita harus melihat setiap pernyataan satu-per-satu, apakah pernyataan tersebut berhubungan dengan realitasnya atau tidak.” Lalu bagaimana jika kita tidak mengetahui realitasnya? Bagaimanapun hal itu sulit untuk dilakukan. Ketiga, Kelemahan teori kebenaran korespondensi ialah munculnya kekhilafan karena kurang cermatnya penginderaan, atau indera tidak normal lagi. Di samping itu teori kebenaran korespondensi tidak berlaku pada objek/bidang nonempiris atau objek yang tidak dapat diinderai. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, ia harus didukung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam pembentukan objektivanya. Kebenaran yang benar-benar lepas dari kenyataan subjek.

Teori Koherensi (Coherence Theory of Truth)
Teori kebenaran koherensi adalah teori kebenaran yang didasarkan kepada kriteria koheren atau konsistensi. Suatu pernyataan disebut benar bila sesuai dengan jaringan komprehensif dari pernyataan-pernyataan yang berhubungan secara logis. Pernyataan-pernyataan ini mengikuti atau membawa kepada pernyataan yang lain. Seperti sebuah percepatan terdiri dari konsep-konsep yang saling berhubungan dari massa, gaya dan kecepatan dalam fisika. Teori Koherensi/Konsistensi (The Consistence/Coherence Theory of Truth) memandang bahwa kebenaran ialah kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataan-pernyataan lainnya yang sudah lebih dahulu diketahui, diterima dan diakui sebagai benar. Suatu proposisi benar jika proposisi itu berhubungan (koheren) dengan proposisi-proposisi lain yang benar atau pernyataan tersebut bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap benar. Dengan demikian suatu putusan dianggap benar apabila mendapat penyaksian (pembenaran) oleh putusan-putusan lainnya yang terdahulu yang sudah diketahui,diterima dan diakui benarnya. Karena sifatnya demikian, teori ini mengenal tingkat-tingkat kebenaran. Disini derajar koherensi merupakan ukuran bagi derajat kebenaran. Contoh: “Semua manusia akan mati. Si Fulan adalah seorang manusia. Si Fulan pasti akan mati.” “Sukarno adalah ayahanda Megawati. Sukarno mempunyai puteri. Megawati adalah puteri Sukarno”.
Seorang sarjana Barat A.C Ewing (1951:62) menulis tentang teori koherensi, ia mengatakan bahwa koherensi yang sempurna merupakan suatu idel yang tak dapat dicapai, akan tetapi pendapat-pendapat dapat dipertimbangkan menurut jaraknya dari ideal tersebut. Sebagaimana pendekatan dalam aritmatik, dimana pernyataan-pernyataan terjalin sangat teratur sehingga tiap pernyataan timbul dengan sendirinya dari pernyataan tanpa berkontradiksi dengan pernyataan-pernyataan lainnya. Jika kita menganggap bahwa 2+2=5, maka tanpa melakukan kesalahan lebih lanjut, dapat ditarik kesimpulan yang menyalahi tiap kebenaran aritmatik tentang angka apa saja.
Teori koherensi, pada kenyataannya kurang diterima secara luas dibandingkan teori korespondensi. Teori ini punya banyak kelemahan dan mulai ditinggalkan. Misalnya, astrologi mempunyai sistem yang sangat koheren, tetapi kita tidak menganggap astrologi benar. Kebenaran tidak hanya terbentuk oleh hubungan antara fakta atau realitas saja, tetapi juga hubungan antara pernyataan-pernyataan itu sendiri. Dengan kata lain, suatu pernyataan adalah benar apabila konsisten dengan pernyataan-pernyataan yang terlebih dahulu kita terima dan kita ketahui kebenarannya.
Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. Sistem matematika disusun diatas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar (aksioma). Dengan mempergunakan beberapa aksioma, maka disusun suatu teorema. Dan diatas teorema-lah, maka dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan merupakan suatu sistem yang konsisten.
Salah satu dasar teori ini adalah hubungan logis dari suatu proposisi dengan proposisi sebelumnya. Proposisi atau pernyataan adalah apa yang dinyatakan, diungkapkan dan dikemukakan atau menunjuk pada rumusan verbal berupa rangkaian kata-kata yang digunakan untuk mengemukakan apa yang hendak dikemukakan. Proposisi menunjukkan pendirian atau pendapat tentang hubungan antara dua hal dan merupakan gabungan antara faktor kuantitas dan kualitas. Contohnya tentang hakikat manusia, baru dikatakan utuh jika dilihat hubungan antara kepribadian, sifat, karakter, pemahaman dan pengaruh lingkungan. Psikologi strukturalisme berusaha mencari strukturasi sifat-sifat manusia dan hubungan-hubungan yang tersembunyi dalam kepribadiannya.
Dua masalah yang didapatkan dari teori koherensi adalah: (1) Pernyataan yang tidak koheren (melekat satu sama lain) secara otomatis tidak tergolong kepada suatu kebenaran, namun pernyataan yang koheren juga tidak otomatis tergolong kepada suatu kebenaran. Misalnya saja diantara pernyataan “anakku mengacak-acak pekerjaanku” dan “anjingku mengacak-acak pekerjaanku” adalah sesuatu yang sulit untuk diputuskan mana yang merupakan kebenaran, jika hanya dipertimbangkan dari teori koherensi saja. Misalnya lagi, seseorang yang berkata, “ Sundel Bolong telah mengacak-acak pekerjaan saya!”, akan dianggap salah oleh saya karena tidak konsisten dengan kepercayaan saya. (2) sama halnya dalam mengecek apakah setiap pernyataan berhubungan dengan realitasnya, kita juga tidak akan mampu mengecek apakah ada koherensi diantara semua pernyataan yang benar.

Teori Pragmatik (The Pragmatic Theory of Truth)
Teori kebenaran pragmatis adalah teori yang berpandangan bahwa arti dari ide dibatasi oleh referensi pada konsekuensi ilmiah, personal atau sosial. Benar tidaknya suatu dalil atau teori tergantung kepada berfaedah tidaknya dalil atau teori tersebut bagi manusia untuk kehidupannya. Kebenaran suatu pernyataan harus bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Teori Pragmatis (The Pragmatic Theory of Truth) memandang bahwa “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis”; dengan kata lain, “suatu pernyataan adalah benar jika pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia”.
Pragmatisme menantang segala otoritanianisme, intelektualisme dan rasionalisme. Bagi mereka ujian kebenaran adalah manfaat (utility), kemungkinan dikerjakan (workability) atau akibat yang memuaskan (Titus, 1987:241), Sehingga dapat dikatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Pegangan pragmatis adalah logika pengamatan dimana kebenaran itu membawa manfaat bagi hidup praktis dalam kehidupan manusia. Kata kunci teori ini adalah: kegunaan (utility), dapat dikerjakan (workability), akibat atau pengaruhnya yang memuaskan (satisfactory consequencies). Teori ini pada dasarnya mengatakan bahwa suatu proposisi benar dilihat dari realisasi proposisi itu. Jadi, benar-tidaknya tergantung pada konsekuensi, kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis, sepanjang proposisi itu berlaku atau memuaskan.
Menurut teori pragmatis, “kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Artinya, suatu pernyataan adalah benar, jika pernyataan itu atau konsekuensi dari pernyataan itu mempunyai kegunaan praktis bagi kehidupan manusia” . Dalam pendidikan, misalnya di UIN, prinsip kepraktisan (practicality) telah mempengaruhi jumlah mahasiswa pada masing-masing Fakultas. Tarbiyah lebih disukai, karena pasar kerjanya lebih luas daripada fakultas lainnya. Mengenai kebenaran tentang “Adanya Tuhan” atau menjawab pertanyaan “Does God exist ?”, para penganut paham pragmatis tidak mempersoalkan apakah Tuhan memang ada baik dalam ralitas atau idea (whether really or ideally). Yang menjadi perhatian mereka adalah makna praktis atau dalam ungkapan William James “ ….they have a definite meaning for our ptactice. We can act as if there were a God”. Dalam hal ini, menurut penganut pragmatis, kepercayaan atau keyakinan yang membawa pada hasil yang terbaik; yang menjadi justifikasi dari segala tindakan kita; dan yang meningkatkan suatu kesuksesan adalah kebenaran. Teori pragmatis meninggalkan semua fakta, realitas maupun putusan/hukum yang telah ada. Satu-satunya yang dijadikan acuan bagi kaum pragmatis ini untuk menyebut sesuatu sebagai kebenaran ialah jika sesuatu itu bermanfaat atau memuaskan.
Apa yang diartikan dengan benar adalah yang berguna (useful) dan yang diartikan salah adalah yang tidak berguna (useless). Karena istilah “berguna” atau “fungsional” itu sendiri masih samar-samar, teori ini tidak mengakui adanya kebenaran yang tetap atau mutlak. Pragmatisme memang benar untuk menegaskan karakter praktis dari kebenaran, pengetahuan, dan kapasitas kognitif manusia. Tapi bukan berarti teori ini merupakan teori yang terbaik dari keseluruhan teori. Kriteria pragmatisme juga diergunakan oleh ilmuan dalam menentukan kebenaran ilmiah dalam prespektif waktu. Secara historis pernyataan ilmiah yang sekarang dianggap benar suatu waktu mungkin tidak lagi demikian. Dihadapkan dengan masalah seperti ini maka ilmuan bersifat pragmatis selama pernyataan itu fungsional dan mempunyai kegunaan maka pernyataan itu dianggap benar, sekiranya pernyataan itu tidak lagi bersifat demikian, disebabkan perkembangan ilmu itu sendiri yang menghasilkan pernyataan baru, maka pernyataan itu ditinggalkan, demikian seterusnya.

Teori Struktural Paradigmatik
Suatu teori dinyatakan benar jika teori itu berdasarkan pada paradigma atau perspektif tertentu dan ada komunitas ilmuwan yang mengakui atau mendukung paradigma tersebut.
Banyak sejarawan dan filosof sains masa kini menekankan bahwa serangkaian fenomena atau realitas yang dipilih untuk dipelajari oleh kelompok ilmiah tertentu ditentukan oleh pandangan tertentu tentang realitas yang telah diterima secara apriori oleh kelompok tersebut. Pandangan apriori ini disebut paradigma oeh Kuhn dan world view oleh Sardar. Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota suatu masyarakat sains atau dengan kata lain masyarakat sains adalah orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama.
Masyarakat sains bisa mencapai konsensus yang kokoh karena adanya paradigma. Sebagai konstelasi komitmen kelompok, paradigma merupakan nilai-nilai bersama yang bisa menjadi determinan penting dari perilaku kelompok meskipun tidak semua anggota kelompok menerapkannya dengan cara yang sama. Paradigma juga menunjukkan keanekaragaman individual dalam penerapan nilai-nilai bersama yang bisa melayani fungsi-fungsi esensial ilmu pengetahuan. Paradigma berfungsi sebagai keputusan yuridiktif yang diterima dalam hukum tak tertulis.
Pengujian suatu paradigma terjadi setelah adanya kegagalan berlarut-larut dalam memecahkan masalah yang menimbulkan krisis. Pengujian ini adalah bagian dari kompetisi di antara dua paradigma yang bersaingan dalam memperebutkan kesetiaan masyarakat sains. Falsifikasi terhadap suatu paradigma akan menyebabkan suatu teori yang telah mapan ditolak karena hasilnya negatif. Teori baru yang memenangkan kompetisi akan mengalami verifikasi. Proses verifikasi-falsifikasi memiliki kebaikan yang sangat mirip dengan kebenaran dan memungkinkan adanya penjelasan tentang kesesuaian atau ketidaksesuaian antara fakta dan teori. Perubahan dari paradigma lama ke paradigma baru adalah pengalaman konversi yang tidak dapat dipaksakan. Adanya perdebatan antar paradigma bukan mengenai kemampuan relatif suatu paradigma dalam memecahkan masalah, tetapi paradigma mana yang pada masa mendatang dapat menjadi pedoman riset untuk memecahkan berbagai masalah secara tuntas. Adanya jaringan yang kuat dari para ilmuwan sebagai peneliti konseptual, teori, instrumen, dan metodologi merupakan sumber utama yang menghubungkan ilmu pengetahuan dengan pemecahan berbagai masalah.

Teori Performatik
Teori ini menyatakan bahwa kebenaran diputuskan atau dikemukakan oleh pemegang otoritas tertentu. Contoh pertama mengenai penetapan 1 Syawal. Sebagian muslim di Indonesia mengikuti fatwa atau keputusan MUI atau pemerintah, sedangkan sebagian yang lain mengikuti fatwa ulama tertentu atau organisasi tertentu. Contoh kedua adalah pada masa rezim orde lama berkuasa, PKI mendapat tempat dan nama yang baik di masyarakat. Ketika rezim orde baru, PKI adalah partai terlarang dan semua hal yang berhubungan atau memiliki atribut PKI tidak berhak hidup di Indonesia. Contoh lainnya pada masa pertumbuhan ilmu, Copernicus (1473-1543) mengajukan teori heliosentris dan bukan sebaliknya seperti yang difatwakan gereja. Masyarakat menganggap hal yang benar adalah apa-apa yang diputuskan oleh gereja walaupun bertentangan dengan bukti-bukti empiris.
Dalam fase hidupnya, manusia kadang kala harus mengikuti kebenaran performatif. Pemegang otoritas yang menjadi rujukan bisa pemerintah, pemimpin agama, pemimpin adat, pemimpin masyarakat, dan sebagainya. Kebenaran performatif dapat membawa kepada kehidupan sosial yang rukun, kehidupan beragama yang tertib, adat yang stabil dan sebagainya.
Masyarakat yang mengikuti kebenaran performatif tidak terbiasa berpikir kritis dan rasional. Mereka kurang inisiatif dan inovatif, karena terbiasa mengikuti kebenaran dari pemegang otoritas. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya masih sangat patuh pada adat, kebenaran ini seakan-akan kebenaran mutlak. Mereka tidak berani melanggar keputusan pemimpin adat dan tidak terbiasa menggunakan rasio untuk mencari kebenaran.

PENUTUP
Dalam kenyataannya kini, kriteria kebenaran cenderung menekankan satu atu lebih dati tiga pendekatan (1) yang benar adalah yang memuaskan keinginan kita, (2) yang benar adalah yang dapat dibuktikan dengan eksperimen, (3) yang benar adalah yang membantu dalam perjuangan hidup biologis. Oleh karena teori-teori kebenaran (koresponden, koherensi, dan pragmatisme) itu lebih bersifat saling menyempurnakan daripada saling bertentangan, maka teori tersebut dapat digabungkan dalam suatu definisi tentang kebenaran. kebenaran adalah persesuaian yang setia dari pertimbangan dan ide kita kepada fakta pengalaman atau kepada alam seperti adanya. Akan tetapi karena kita dengan situasi yang sebenarnya, maka dapat diujilah pertimbangan tersebut dengan konsistensinnya dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang kita anggap sah dan benar, atau kita uji dengan faidahnya dan akibat-akibatnya yang praktis.
Uraian dan ulasan mengenai berbagai teori kebenaran di atas telah menunjukkan kelebihan dan kekurangan dari berbagai teori kebenaran. Teori Kebenaran Kelebihan Kekurangan Korespondensi sesuai dengan fakta dan empiris kumpulan fakta-fakta Koherensi bersifat rasional dan Positivistik Mengabaikan hal-hal non fisik Pragmatis fungsional-praktis tidak ada kebenaran mutlak Performatif Bila pemegang otoritas benar, pengikutnya selamat Tidak kreatif, inovatif dan kurang inisiatif Konsensus Didukung teori yang kuat dan masyarakat ilmiah Perlu waktu lama untuk menemukan kebenaran.

DAFTAR PUSTAKA
Inu kencana Syafi’i, Filsafat kehidupan (Prakata), Jakarta: Bumi Aksara, 1995.
Abbas, H.M., 1997, “Kebenaran Ilmiah” dalam: Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan, Intan Pariwara, Yogyakarta.
Awing, A.C., The Fundamental Questions of Philosophy, London: Routledge and Kegan Paul, 1951.
Titus, Harold H., dkk., Living Issues in Philasophy, Lihat juga Terj. H. M. Rasyidi, Persoalan-Persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang, 1987.
Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat II, Yogyakarta: Kanisius, 1980.
Suriasumantri, Junjun S. 1984. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
William James. The varieties of religious experience. New York: The Penguin American Library. 1982.
Jujun S. Sumiasumantri. Filsafat Ilmu,Sebuah Pengantar Populer, Jakarata: Pustaka Sinar harapan, 1990